
Mr D (kiri) dan Hadi Wardoyo, penggagas Kawung Innovation (tengah) saat menyerahkan lukisan QR Art ke BWPT.

iniSURABAYA.com | JOMBANG – Dua lukisan QR Art karya Doddy Hernanto diserahkan ke Badan Wakaf Pesantren Tebuireng (BWPT). Karya tersebut menggambarkan sosok KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dan KH Abdurrahman Wahid, mantan Ketua PBNU dan sekaligus Presiden ke-4 RI.
Menurut Doddy Hernanto, bila QR Art tersebut di scan akan menghasilkan jejak rekam digital dua tokoh nasional tersebut. Hadiah berupa karya lukis QR Art itu diterima langsung oleh KH Abdul Halim Mahfudz (Gus Im), Ketua BWPT di Gedung Yusuf Hasyim lantai 2, Kamis (29/12/2022).
Tidak seperti karya QR Art pada umumnya, pria yang dikenal dengan sapaan Mr D ini mengungkapkan, dalam pembuatannya dia juga menyisipkan kalimat asmaul husna.
Tak heran jika dalam pembuatan dua karya ini membutuhkan waktu yang lama. “Ini karya saya satu-satunya di dunia. Bahkan saya sendiri tidak bisa membuat ulang karena di setiap goresan tersisip lafad asmaul husna sebagai watermark,” begitu ungkapnya kepada iniSurabaya.com, Jumat (30/12/2022).
Mr D menyatakan bahwa dirinya pengagum KH Hasyim Asyari dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Karena itu dia tak ingin kisah dan kiprah dua ulama besar itu hilang di muka bumi.
“Saya ingin jasa dua pahlawan ini tak boleh dihilangkan. Akhirnya saya buat lukisan QR Art ini sebagai bukti cinta saya kepada beliau,” paparnya.
Seniman multitalenta yang juga dijuluki gitaris satu jari ini berharap masyarakat, khususnya generasi muda bisa mentauladani dua tokoh inspiratif yang pernah dimiliki Indonesia ini melalui karya QR Art tersebut.
“Saya berharap generasi muda yang akan datang tetap tidak melupakan sosok KH Hasyim Asyari dan Gus Dur,” paparnya.
Gus sangat mengapresiasi karya yang didukung teknologi digital tersebut. “Bagi kami yang di lingkup pesantren bertemu dengan mereka serasa mendapatkan keberkahan. Karena kami bertemu orang yang mempunyai keahlian langka di pesantren,” katanya.
Gus Im meyakini, bertemunya BWPT dengan para ahli dalam bidang teknologi akan membuat pesantren semakin meningkat kinerjanya dan performance pesantren tersebut.
“Karena pesantren ini institusi yang tua, bahkan lebih tua dari Indonesia. Namun, sejauh ini belum banyak hal baik yang bisa diekspose ke luar,” imbuhnya.
Apalagi pengelolaan wakaf itu harus dilakukan secara transparan. Dengan adanya teknologi yang akan dikembangkan oleh mereka yang menguasai teknologi digital membuat segalanya bisa dilihat secara gamblang mulai dari data base bahkan hingga peta penggunaan wakaf bisa diakses langsung.
“Saya sangat bersyukur, bahkan saya tadi telah melihat dan mempraktikkan sediri cara kerjanya,” cetusnya.
Gus Im berharap keahlian di bidang digital ini akan membantu dan memfasilitasi nilai-nilai di pesantren dapat tersampaikan ke masyarakat. “Bahkan bisa menjadi rumah literasi digital pesantren. Jadi masyarakat bisa tahu hal-hal yang ada dipesantren dan sebaliknya pesantren juga tahu di luar ada apa sebenarnya,” ungkapnya.
Penyerahan lukisan QR Art dua tokoh nasional tersebut antara lain dihadiri pula oleh Hadi Wardoyo, penggagas Kawung Innovation yang mewadahi inovasi karya anak bangsa, dan Puguh Iryantoro, Dewan Pengawas BWPT. wid
















