

“Feeder itu akan kami penuhi semuanya di tahun 2024. Dan sebagian kita akan menggunakan kendaraan listrik. Itu komitmen kita bersama,” katanya.
Di sisi lain, Cak Eri menegaskan bahwa salah satu cara Surabaya untuk menghilangkan kemacetan adalah kembali ke angkutan umum. Karena itu, Cak Eri juga memastikan Pemkot Surabaya siap menerima pilot project lainnya dan siap berkomitmen dan bersinergi serta berkolaborasi dengan Kemenhub.
“Insyaallah Surabaya bisa merasakan bagaimana tidak ada kemacetan dan polusi bisa semakin berkurang,” ucapnya.
Ditemui di tempat yang sama, Suharto mengatakan bus listrik itu tidak memunculkan kebisingan. Kemudian, bus listrik itu juga tidak ada knalpotnya, sehingga secara otomatis emisi gas buangnya tidak ada atau nol.
Karena itu, nantinya beberapa angkutan umum di Trans Semanggi secara bertahap diganti dengan menggunakan bus listrik. “Tujuannya supaya target emisi di Surabaya Raya ini semakin lama semakin menurun. Intinya bagaimana kita punya kontribusi yang positif untuk Kota Surabaya dalam rangka berperan menyehatkan masyarakat melalui penurunan emisi itu,” ungkap Suharto.
Dia mengatakan dari 10 kota BTS di Indonesia, pertama dilakukan di Surabaya dan secara bertahap akan dilakukan penambahan sejalan dengan peningkatan selesainya produksi dari karoseri.
















