SDN Alun-Alun Contong Dikembalikan Jadi SDN Sulung, Eri Cahyadi: Ayah Presiden Sukarno Dulu Mengajar di Sini

Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya di SDN Sulung Surabaya.

iniSURABAYA.com – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Alun-Alun Contong I/87 resmi dikembalikan namanya menjadi SDN Sulung Surabaya. Pengembalian nama sekolah di Jalan Sulung Sekolahan No 1/87, Kecamatan Bubutan Surabaya tersebut, tidak lepas dari peristiwa sejarah di belakangnya.

Menurut Eri Cahyadi, Wali Kota, latar belakang pengembalian nama SDN Sulung tersebut, sebagai upaya untuk mengingat kembali sejarah bangsa. Hal tersebut berdasarkan data penelusuran sejarah komunitas Begandring Soerabaia.

Bacaan Lainnya

“Ayah Presiden Soekarno itu mengajar di SD Sulung, sehingga menjadi garis lurus antara Peneleh (rumah lahir Soekarno) sampai SD Sulung ini. Namun tiba-tiba (diubah) menjadi SDN Alun-Alun Contong, sejarahnya hilang. Ini yang akhirnya harus kita kembalikan lagi namanya,” kata Eri Cahyadi di momen peresmian nama SDN Sulung pekan lalu.

Pria yang akrab disapa Cak Eri ini menandaskan, sebuah bangsa atau kota ini tidak bisa menjadi besar kalau tidak mengingat sejarah. Terlebih, Kota Surabaya telah melahirkan banyak tokoh pejuang dan pahlawan yang membela bangsa.

“Di Kota Surabaya ini lahir Bung Karno. Ayahnya berjuang untuk pendidikan mengajar di SD Sulung. Guru politiknya (Bung Karno) yang luar biasa menjadi tokoh nasional, HOS Tjokroaminoto juga di Surabaya,” urainya.

Untuk itu, Cak Eri mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para pelajar Surabaya agar dapat meneruskan api perjuangan para pahlawan. Sebagai Kota Pahlawan, sudah seharusnya warga Surabaya juga memiliki jiwa-jiwa kepahlawanan.

“Karena itulah sejak dini, saya meminta kepada Dinas Pendidikan, baik PAUD, SD-SMP, bahkan nanti SMA kita minta izin, untuk memberikan pelajaran terkait sejarah kebangsaan,” pesannya.

Cak Eri menambahkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa dengan sejarahnya. Maka dari itu, melalui Sekolah Kebangsaan tersebut, Eri Cahyadi berharap pelajar Surabaya tidak melupakan sejarah perjuangan para pahlawan.

“Bagaimana perjuangan Soekarno itu bisa merebut kemerdekaan. Dan salah satu perjuangan itu dimulai ketika Soekarno lahir. Ayahandanya itu adalah guru di SD Sulung, sehingga di sinilah dimulai api perjuangan Bung Karno,” tandasnya.

Usai peresmian nama SDN Sulung, Cak Eri juga sempat mengajar Sekolah Kebangsaan di SDN Sulung. Peserta sekolah kebangsaan ini diikuti pelajar dari jenjang SD hingga SMP di Kota Surabaya.

Dalam momen itu, ia mengajak anak-anak untuk dapat meneladani jiwa-jiwa kepahlawanan Bung Karno. “Tadi saya juga sampaikan ke anak-anak bahwa tidak pernah Soekarno bertempur melawan orang-orang pribumi, orang Indonesia,” tuturnya.

Mantan Kepala Bappeko Surabaya ini menyatakan pula, tidak ada dulu pejuang berantem dengan warganya. “Yang ada adalah bertempur melawan Belanda. Lha kok sekarang kita ini ada tawuran antar warga, tawuran antar sekolah,” cetusnya.

Cak Eri mengingatkan, tawuran antar pelajar ini karena nilai-nilai kebangsaan tidak masuk ke dalam jiwa arek-arek Suroboyo. Tentunya, hal ini menjadi tanggung jawab bersama, baik itu orang tua, guru, wali kota maupun DPRD Surabaya.

Makanya, sejak dini anak-anak tersebut harus dimasukkan nilai-nilai kepahlawanan dan agama melalui Sekolah Kebangsaan.

“Sehingga nanti kita akan turun (mengajar) ke sekolah, kita juga berbagi dengan DPRD siapa yang mengajar. Maka semangat pahlawan ini dimasukkan, ditambahkan semangat agama, akhlakul karimah, Insyaallah kita bisa menghilangkan kegiatan-kegiatan negatif di Kota Surabaya,” pungkasnya. wid

Pos terkait