
Sutardi (pakai celana pendek) di tengah para modelnya di gelaran Surabaya Fashion Parade hari pertama.

Kesan minimalis dan modern yang muncul kala itu berkaitan erat dengan invasi teknologi. Dalam konteks kekinian, Sutardi ingin merayakan kemajuan teknologi lewat fesyen yang global dan universal.
Implementasi Futurismo juga terlihat dalam desain yang berkonsep Classy Easy Fashion. Sutardi terinspirasi dari hiruk-pikuk orang-orang selepas pandemic Covid-19.
“Terkadang orang bingung menentukan outfit untuk kasual dan formal, lewat tema Futurismo yang bergaris tegas membuat ready to wear menjadi pakaian yang bisa membuat orang tampil kasual dan formal dengan waktu yang bersamaan,” ujar Sutardi.
Sutardi meyakini, Surabaya menjadi pasar yang cocok untuk desain dan konsep yang diusung Farah Button yang menghadirkan busana dengan bahan linen katun. Sebab Surabaya adalah kota besar yang berkarakter unik.
Keunikan itu terlihat dari masyarakat Surabaya yang hidup di kota besar tetapi tidak individualistis. Keakraban dan kehangatannya tetap terjaga. “Jadi selepas kerja, orang masih punya waktu untuk sekadar hang out atau nongkrong dan koleksi-koleksi Farah Button fleksibel dikenakan di kesempatan apa pun,” ucap Sutardi.
















