
IFI Surabaya kolaborasi dengan Wisma Jerman dan Biennale Jatim gelar pameran fotografi internasional di Rumah Budaya Sidoarjo.
Lola Hemet dan Thomas Pringault tertarik merekam hubungan antara manusia dengan bentang alam sekaligus menjadi refleksi mereka dalam melihat Bromo.
Sementara Louis Roth, Lasse Branding, Khairunnisa Ramadhan, dan Clara Sartor memberi perhatian pada narasi mengenai anak muda dan masa depan bagi masyarakat Tengger.
Bromo Mewakili Perjalanan, Petualangan, dan Ketenangan
Kurator pameran Idealita Ismanto dan Dwi Asrul Fajar memberi catatan khusus terkait karya foto yang dipamerkan di Rumah Budaya Malik Ibrahim tersebut.
Ismanto maupun Dwi Asrul Fajar sepakat bahwa karya-karya yang dipilih para fotografer tidak hanya memaknai dan memahami Gunung Bromo sebagai lanskap manis bagi mata turis, tetapi juga merekam keseharian masyarakat yang selama ini tinggal di wilayah tersebut.
“Bromo menjadi lanskap tarik-menarik kepentingan, sebagai objek pariwisata dan nilai-nilai budaya yang mencoba untuk mempertahankan dirinya. Sebagai lanskap, Bromo memang sering kali memunculkan citra berbeda-beda, pegunungan, kuda-kuda, sabana, debu, kuda, ritual serta mitos-mitosnya.

















