Bisnis Perhotelan di Surabaya Sudah di ‘Lampu Merah’, Firman S Permana: Ini Lebih Buruk daripada Pandemi Covid-19

Bisnis perhotelan di Jawa Timur, khususnya Surabaya terkena dampak serius menyusul kebijakan efisiensi pemerintah pusat.
Akibatnya, kata Firman, tak ada pilihan lain kecuali ‘merumahkan’ karyawan. “Yang sudah dilakukan saat ini adalah tahapan gateway, merumahkan selama 15 hari kerja,” tuturnya.
Selain itu, juga pengurangan tenaga kerja harian. “Casual worker terkena dampaknya. Tenaga kontrak pun tidak diperpanjang. Misal waktunya (kontrak) FBM (Food & Beverage Manager) habis, maka kontraknya tidak diperpanjang,” ujarnya.
Fenomena lain yang terjadi adalah persaingan makin ketat dan tidak sehat di kalangan pengusaha perhotelan di Surabaya. “Kondisi ini sudah membuat 2-3 hotel di Bogor tutup. Apa ingin kondisi yang sama terjadi di Surabaya? semoga tidak!” sergahnya.
Tetapi, Firman menekankan, jika tidak segera ada solusi atas dampak efisiensi tersebut, bukan tidak mungkin akan banyak hotel di Surabaya gulung tikar. “Lihat saja hotel-hotel di pusat Kota Surabaya sampai bulan ini ‘megap-megap’ karena tak ada tamu yang datang,” bebernya.
Firman menyatakan, PHRI BPD Jatim sudah melayangkan surat ke Pemkot Surabaya maupun Pemprov Jatim. “Sejauh ini responsnya masih tahapan audiensi-audiensi. Belum ada kebijakan konkret sebagai solusinya,” cetus pria yang sudah malang melintang di dunia perhotelan di Tanah Air ini.
















