
Purbaya Yudhi Sadewa (foto: IST)
iniSURABAYA.com – Peringatan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada Bea Cukai bukan sekadar bentakan birokrasi. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi? Ekky Dirgantara menuangkannya dalam Catatan Khusus untuk pembaca iniSurabaya.com berikut ini.
“Ini sinyal keras bahwa negara sudah muak dengan institusi yang berkutat di lumpur kecurigaan publik. DJBC diberi satu tahun. Gagal dibekukan. Diganti SGS, perusahaan inspeksi asal Swiss. Dan 16.000 pegawai bisa kehilangan pekerjaan.”
Kedengarannya radikal. Tapi mari jujur: siapa yang benar-benar terkejut? Keluhan soal layanan Bea Cukai sudah bertahun-tahun jadi kaset kusut. Mulai dari pungutan tak resmi, pelayanan lambat, sampai drama publik soal barang sitaan. Akumulasi frustrasi ini akhirnya meledak lewat ancaman Purbaya.
Namun, di balik retorika tegas itu, ada pertanyaan yang harus dijawab: apakah negara benar-benar siap menyerahkan sebagian fungsi kepabeanan kepada perusahaan asing? SGS mungkin ahli inspeksi, tetapi mereka bukan penjaga kedaulatan.
Ketika kontrol arus barang lintas batas dialihkan ke operator privat global, kita bukan sedang membenahi-birokrasi; kita sedang meminjamkan kunci gudang nasional pada pihak luar.
Dan itu bukan keputusan kecil.
















