Menata Ulang Efisiensi Berkeadilan di Era Algoritma: Sebuah Refleksi menuju JICF 2025

0
478


Karena itu, JICF ke-3 akan menghadirkan diskusi mendalam mengenai dominasi digital dan transparansi pasar, melibatkan pakar dari otoritas persaingan usaha global seperti Rusia, Australia, Tiongkok, Jepang, ASEAN, hingga Mesir.

“Tujuannya jelas, Indonesia perlu berakselerasi dengan mengadopsi praktik terbaik global,” kata Deswin Nur.

Salah satu fokus utama yang menjadi jiwa dari forum ini adalah nasib Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di ekosistem platform, UMKM sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan oleh klausul kontrak yang tidak seimbang dan praktik take-it-or-leave-it.

Jika kebijakan persaingan gagal menginternalisasi aspek keadilan bagi pemain kecil, manfaat digitalisasi hanya akan terkonsentrasi pada segelintir raksasa teknologi.

Juga isu merger dan akuuisisi global, yang perlu diantisipasi guna mencegah pemusatan konsentrasi domestik secara tidak kasat mata.

“Sebagai langkah konkret, JICF turut mengangkat kedua isu tersebut,” imbuh Deswin Nur.

Selain isu digital, sorotan tajam juga diarahkan pada pengadaan barang dan jasa publik. Dengan skala belanja pemerintah yang begitu besar, sektor ini menjadi lahan basah bagi persekongkolan tender yang merugikan uang rakyat.

1 2 3

Comments are closed.