
Musyawarah Dewan Kebudayaan Surabaya. (foto-foto: dok/IST)
Jika mau serius, langkah pertama adalah pendataan yang akurat. Siapa seniman, siapa pekerja seni, siapa perajin.
Dari situ bisa disusun program pembinaan yang tepat. Bisa dirancang skema pengembangan sumber daya manusia. Bisa dibuat tolok ukur melalui pesta kesenian kampung setiap peringatan hari jadi kota.
Tanpa data, kebijakan mudah menjadi wacana. Tanpa kerja bersama, potensi besar hanya menjadi cerita.
Kolaborasi berarti duduk bersama. Berbagi peran. Mengurangi ego. Ia seperti dua telapak tangan yang hendak bertaut. Masing-masing harus rela mengurangi sedikit ruangnya.
Kalau keduanya kaku dan tidak mau bergeser, tidak akan pernah terjadi genggaman yang utuh. Begitu pula dalam dunia kebudayaan. Tidak mungkin satu kelompok merasa paling benar, sementara yang lain dipinggirkan.
Tidak mungkin satu generasi merasa paling senior tanpa memberi ruang kepada yang muda. Dan yang muda pun tidak bisa tumbuh tanpa menghormati pengalaman yang lebih dahulu menapaki jalan.
















