Catatan Khusus Bonang Adji Handoko: Ketika Rumah Kebudayaan Jadi Arena Perebutan Panggung

0
34

Padahal kebudayaan tidak pernah tumbuh dari keributan semata. Ia tumbuh dari ketekunan yang sunyi. Dari orang-orang yang datang lebih awal untuk membuka ruang latihan. Dari mereka yang membersihkan aula setelah pertunjukan selesai. Dari mereka yang mendampingi anak-anak kecil belajar teater, musik, atau ludruk tanpa kamera dan tanpa tepuk tangan.

Tetapi kerja-kerja sunyi semacam itu hari ini kalah populer dibanding pertunjukan kemarahan. Akibatnya ruang kebudayaan berubah menjadi ruang kompetisi moral.

Semua ingin tampak paling revolusioner. Atau berteriak sebagai orang yang berjiwa progresif revolusioner. Semua ingin menjadi wajah utama perlawanan. Namun sangat sedikit yang benar-benar siap menjalankan tanggung jawab pengelolaan kebudayaan secara panjang.

Ketika konflik pengelolaan Balai Pemuda mencuat, publik menyaksikan ledakan solidaritas yang luar biasa. Poster-poster perlawanan memenuhi media sosial. Diskusi digelar. Puisi dibacakan. Orasi dikumandangkan.

Tetapi ketika pembicaraan mulai masuk pada hal-hal mendasar—tentang tata kelola, sistem penggunaan ruang, tanggung jawab operasional, regenerasi komunitas, transparansi akses publik—suasana mulai berubah sunyi.

1 2 3 4 5 6

Comments are closed.