
Ia lebih sering menjadi wilayah yang dikuasai kelompok tertentu dengan bahasa eksklusifnya masing-masing.
Sementara komunitas-komunitas kecil di kampung tetap berada di luar pagar. Seniman jalanan tetap berjalan sendiri. Anak-anak muda tetap kesulitan menemukan ruang belajar yang sehat.
Dan publik hanya menyaksikan pergantian elite kebudayaan dari waktu ke waktu. Situasi ini berbahaya. Karena ketika kebudayaan terlalu lama dikuasai logika panggung, maka seni kehilangan fungsi sosialnya.
Ia tidak lagi menjadi ruang perjumpaan warga kota. Ia berubah menjadi alat legitimasi sosial. Menjadi identitas kelompok. Menjadi industri citra.
Padahal Surabaya memiliki akar budaya yang jauh lebih kuat daripada sekadar pertunjukan konflik elite seni. Kota ini dibangun oleh kultur Arek yang egaliter, terbuka, gotong royongndan penuh solidaritas sosial.
Budaya kampung Surabaya sejak dahulu bertumbuh dari kebersamaan: cangkrukan, ludruk rakyat, musik patrol, rembug warga, dan ruang-ruang pertemuan yang cair.
















