
Karena ternyata merawat rumah kebudayaan jauh lebih sulit dibanding meneriakkan slogan penyelamatan kebudayaan.
Kebudayaan membutuhkan struktur.
Membutuhkan kesediaan berbagi ruang.
Membutuhkan sistem yang adil
Membutuhkan disiplin kolektif.
Dan yang paling penting: membutuhkan kerendahan hati untuk tidak merasa paling memiliki ruang kebudayaan itu sendiri.
Di fase inilah Surabaya menghadapi persoalan kebudayaan yang lebih serius daripada sekadar konflik pengelolaan gedung. Kota ini sedang mengalami krisis ekosistem kebudayaan. Yang tumbuh bukan lagi tradisi merawat ruang bersama, melainkan tradisi membangun lingkaran pengaruh.
Satu kelompok menguasai ruang.
Kelompok lain melawan.
Ketika kelompok pertama melemah, kelompok baru masuk menggantikannya. Lalu siklus yang sama terus berulang.
Yang berubah hanya aktornya. Sedangkan pola sistem kekuasaannya tetap sama. Akibatnya Balai Pemuda dan ruang-ruang budaya lainnya tidak pernah benar-benar menjadi rumah terbuka bagi seluruh warga kota.
















