
M Anis (memakai topi dan busana putih sebagai ciri khasnya) saat membuka acara melukis On The Spot. (foto-foto: dok/IST)
Cerita ini sengaja saya tulis meskipun terlambat, setelah saya ingat pada tesis lama saya bahwa seniman itu seperti jurnalis, orang paling egois. Yang satu merasa bisa menciptakan dunia melalui karya-karyanya, satunya merasa bisa menguasai dunia lewat berita-berita yang ditulisnya.
Kebetulan saya berada di antara keduanya, aktif di kesenian sejak tahun 1975 sekaligus juga menjadi jurnalis sejak 1983 hingga sekarang.
Dari situ setidaknya saya punya pengalaman empirik tentang bagaimana cara mengendalikan ego agar saya tidak merasa paling hebat dan ngotot harus menang dalam hal apapun; yaitu melalui dialog. Dengan begitu –ini yang penting, kami tetap bisa menyebar-luaskan keindahan melalui cara-cara yang elegan dengan tetap menjaga etika dan estetika. Ini pendapat dan pilihan kami, bisa saja kita berbeda. *















