
M Anis (memakai topi dan busana putih sebagai ciri khasnya) saat membuka acara melukis On The Spot. (foto-foto: dok/IST)
Untuk Balai Pemuda yang menyimpan bukan hanya catatan-catatan tetapi juga nilai-nilai sejarah termasuk sejarah kesenian Kota Surabaya, saya tegaskan harus tetap dipertahankan sebagai oase seni budaya.
Sekarang di kota berpenduduk 3,2 juta ini yang tumbuh pesat dan banyak bermunculan adalah restoran, food court, tempat kulineran UMKM, kafe, warkop dan semacamnya. Pemkot punya kewajiban untuk menjaga keseimbangan hidup warganya, jangan sampai titik beratnya hanya pada urusan perut. Sementara urusan kesejahteraan batin diabaikan.
Karena itu fungsi Balai Pemuda sebagai satu-satunya oase kesenian harus tetap dijaga, bersama-sama dengan para seniman. Dari dialog panjang yang saya kira juga dilaporkan kepada Wali Kota tersebut akhirnya diputuskan, Galeri Merah Putih dan Bengkel Muda Surabaya tidak jadi digusur dari Balai Pemuda. Alhamdulillah.
Dengan mendapat dukungan dari banyak sekali seniman dan komunitas-komunitas perupa, Sabtu 18 April, kami menyelenggarakan OTS (melukis bersama) dengan mengundang dua model, Marcella Zalianty dan Arumi Bachsin.
Kegiatan ini diikuti lebih dari 250 pelukis yang datang dari kota-kota di Jatim, juga beberapa pelukis dari Jateng. Acara ini kami rancang sebagai bentuk protes kami kepada Pemkot karena adanya perintah pengosongan, tapi sekaligus juga syukuran karena Galeri Merah Putih gak jadi digusur.
















