
M Anis (memakai topi dan busana putih sebagai ciri khasnya) saat membuka acara melukis On The Spot. (foto-foto: dok/IST)

Ilustrasi: melukisa OTS bersama Arumi Bachsin dan Marcella Zalianty.
Tetapi karena dalam setahun bisa digelar sampai 41 pameran, baik pameran tunggal maupun pameran bersama, baik pelukis dari Surabaya maupun dari luar kota, maka saya yakin galeri terkecil ini sekaligus juga menjadi galeri terpadat menggelar pameran.
Mereka yang berpameran tidak dibatasi hanya pelukis yang sudah punya jam terbang dengan karya-karya yang bagus atau setidaknya boleh dibilang lumayan dan menjanjikan. Bahkan pelukis anak dan mereka yang baru belajar melukis juga bisa berpameran, dengan cacatan ada slot yang kosong.
Anak-anak berkebutuhan khusus, serta kelompok-kelompok yang perlu mendapat perhatian, juga kami beri kesempatan untuk berpameran tanpa harus dikuratori. Kami tidak pernah mengingkari bahwa ruangan kecil yang menjadi bagian dari komplek Balai Pemuda dan kami jadikan galeri tersebut adalah aset Pemkot Surabaya.
Untuk menjawab surat pengosongan, kami bersama-sama dengan para pelukis meresponnya dengan aksi berupa pameran lukisan di Galeri Merah Putih bertajuk ‘Art for Freedom’. Pameran diikuti 38 pelukis dari Surabaya dan sekitarnya, yang digelar selama seminggu, dengan menampilkan beragam karya tapi sebagian besar adalah coretan ekspresif karena kekecewaan bahkan kemarahan terhadap kebijakan pemkot.
Ada kanvas yang ditutup dengan kain warna hitam, dipajang bersebelahan dengan karya lain berupa kanvas yang ditutup dengan kain putih. Keduanya mengekspresikan perasaan berkabung. Ada juga pelukis yang memperbesar surat perintah pengosongan dari Disbudporapar, mencetaknya di atas kanvas, lantas diberinya coretan-coretan warna merah.
















