
Berangkat dari visual jersey klasik era 1970 FIFA World Cup, karya ini mentransformasikan elemen-elemen yang akrab—nomor punggung, garis vertikal, warna kontras, bola, kaus kaki, dan atribut pertandingan ke dalam bahasa haute couture yang distorsif dan performatif.
Seragam yang pada mulanya bersifat fungsional diubah menjadi medium ekspresi artistik yang sarat makna. Di tangan Embran, jersey tidak lagi dibaca sebagai uniform, tetapi sebagai arsitektur identitas.
Representasi Anatomi Permainan
Karya ini dibangun melalui delapan figur yang merepresentasikan anatomi permainan, yakni wasit, penjaga gawang, kapten, pelatih, suporter, maskot, hakim garis, dan ball boy.
Masing-masing tokoh menghadirkan fungsi dan simbolisme tersendiri, yaitu otoritas, perlindungan, kepemimpinan, strategi, energi kolektif, imajinasi, keseimbangan, dan kehadiran yang nyaris tak terlihat namun esensial.
Bersama-sama, delapan karakter tersebut membentuk suatu dramaturgi visual yang menegaskan bahwa sepak bola merupakan sebuah ekosistem peran yang saling menopang.
Secara estetis, penggunaan palet monokrom hitam-putih memberikan ketegasan grafis sekaligus merujuk pada seragam wasit dan arsip visual pertandingan klasik.
Elemen bola ditempatkan sebagai objek sculptural, sementara garis-garis jersey diterjemahkan menjadi komposisi geometris dan drapery yang dinamis.

















