
Puluhan pelaku industri pernikahan yang dimotori Celtic Indonesia berjalan kaki mengenakan jarik menyusuri Jalan Tunjungan hingga Jalan Embong Malang, Minggu (12/7/2026) pagi.
Perjalanan dua dekade itu disyukuri melalui sebuah acara sederhana yang mempertemukan para sahabat, mitra, dan klien yang telah mendampingi Celtic Indonesia sejak berdiri pada 2006.
“Bagi kami ini bukan perayaan, tetapi syukuran. Kami mengundang teman-teman yang sudah membersamai sejak 2006. Ada doa, ada rasa syukur, dan kami berjalan bersama mengenakan kain batik sebagai simbol kecintaan terhadap budaya Indonesia,” ujar Veni Laksono, The Soul of Celtic Indonesia.
Menurut Soni Laksono, The Heart of Celtic Indonesia, tantangan industri wedding saat ini jauh berbeda dibanding dua dekade lalu. Tak sedikit pasangan kini memilih menikah secara sederhana, bahkan cukup melangsungkan akad di Kantor Urusan Agama (KUA), sebuah tren yang juga terjadi di berbagai negara.
Meski demikian, Soni meyakini pernikahan tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan. “Di balik setiap pernikahan ada cerita, harapan, dan kepercayaan yang menjadi tanggung jawab kami untuk diwujudkan sepenuh hati. Kami percaya perjalanan terbaik Celtic Indonesia masih ada di depan,” katanya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Celtic Indonesia meluncurkan kampanye ‘Menikah Itu Asyik’. Kampanye ini bertujuan mengajak anak muda melihat pernikahan bukan sekadar pesta, melainkan sebuah perjalanan hidup yang akan menjadi kenangan sepanjang masa.

















