
Gus Bahar Halim Mahfudz. (foto visual: dok/AI)
Kita tidak boleh memandang saudara-saudara kita yang tertimpa musibah dengan tatapan menghakimi. Bagi jiwa-jiwa yang beriman, bala’ yang menimpa adalah basuhan air suci yang menghapuskan noda dosa dan mengangkat derajat mereka di sisi Tuhan.
Sedangkan bagi kita yang selamat dan menyaksikan dari kejauhan, musibah itu adalah cermin bening yang memaksa kita bertanya pada diri sendiri: berapa banyak kerusakan yang telah kita perbuat yang turut membebani nafas bumi ini?
Langkah selanjutnya adalah menyatukan kembali tali kasih sayang dengan alam semesta. Kita tidak bisa mengaku beriman jika jemari kita masih gemar merusak ranting-ranting kehidupan, meracuni aliran air, dan mengeruk perut bumi tanpa rasa iba.
Merusak alam adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap keindahan yang telah dipercayakan kepada kita. Hati yang tertata dengan baik akan senantiasa memancarkan kehangatan, tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada setiap helai daun dan setiap jengkal tanah yang disapanya. Menyembuhkan bumi harus dimulai dari menyembuhkan jiwa-jiwa yang telah lama kehilangan rasa dahaga akan kebenaran.
Pada akhirnya, kita harus terus menjaga dan merawat tempat-tempat di mana doa-doa tulus dilantunkan. Di zaman yang semakin bising oleh perebutan takhta dan harta ini, kita sangat membutuhkan ketenangan dari jiwa-jiwa yang tidak dikenal di bumi namun sangat harum di langit.
















