
Gus Bahar Halim Mahfudz. (foto visual: dok/AI)
Sejarah telah mengukir kisah indah tentang bagaimana orang-orang pilihan menyikapi guncangan alam. Ketika tanah Madinah bergetar di bawah kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khattab, beliau tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan di luar sana.
Beliau mengetuk dada masyarakatnya sendiri, mengingatkan bahwa tanah yang mereka pijak sedang menangis karena langkah-langkah yang mulai menyimpang dari jalan lurus. Umar mengajarkan bahwa ketika bumi bergoyang, bangunan pertama yang harus diperbaiki bukanlah dinding-dinding rumah yang retak, melainkan keteguhan moral dan kejujuran dada kita sendiri.
Begitu pula ketika angin bertiup kencang membawa kegelapan, Rasulullah SAW tidak pernah mengutuk angin yang melintas, apalagi menyalahkan. Beliau bergegas menuju tempat sujud, mengulurkan tangan membagikan sedekah, dan menyerukan kasih sayang kepada sesama.
Mari kita petik pelajaran yang sangat dalam dari keteladanan ini: ketakutan kita akan ketidakpastian alam harus diubah menjadi energi kebaikan yang meluap-luap. Peringatan dari langit tidak dirancang untuk membuat kita saling curiga atau merasa paling suci, melainkan untuk melunakkan hati yang mulai membatu agar mau kembali merawat sesama yang terpuruk dan membutuhkan pertolongan.
Memutus Rantai Kesombongan
Maka, menyikapi bencana yang terus berulang membutuhkan keberanian untuk menanggalkan jubah kesombongan. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah membuang jauh-jauh sikap merasa paling benar sendiri.
















