Catatan Khusus Gus Bahar Halim Mahfudz: Ketika Bencana Selaras dengan Perilaku Manusia

0
44

Kitab suci telah memperingatkan bahwa retaknya kedamaian di darat dan di lautan adalah buah matang dari benih keretakan yang ditanam oleh jemari manusia sendiri. Musibah bukanlah tamparan tanpa alasan, melainkan pelukan keras dari alam yang sedang berusaha menyadarkan anak-anaknya yang sedang tertidur lelap dalam kelalaian.

Merawat Pasak Bumi di Tengah Badai
​Namun, di tengah gelombang dosa dan kelalaian yang terus membanjiri bumi, mengapa langit tidak seketika runtuh menimpa kita? Mengapa bumi tidak menelan bulat-bulat peradaban yang makin hari makin congkak ini? Jawabannya berada di sudut-sudut sunyi yang kerap terlupakan.

Di sana, ada jiwa-jiwa bening, bersih, suci yang terus mengetuk pintu langit tanpa lelah. Ada orang-orang alim yang menyebarkan sejuknya ilmu tanpa meminta balasan, ada hamba-hamba bersahaja yang merintih meminta ampun di sepertiga malam, dan ada doa-doa tulus dari rakyat kecil yang menyatu dengan embun pagi.

​Merekalah pasak-pasak bumi yang sebenarnya. Kehadiran jiwa-jiwa suci ini laksana tiang penyangga yang menahan atap rumah agar tidak roboh menimpa penghuninya yang sedang lelap. Rintihan air mata seorang yang tulus di tengah kegelapan memiliki bobot yang sanggup menunda amarah alam semesta.

Melalui keberadaan mereka, Allah menahan pukulan pemusnahan yang sangat mengerikan, lalu menggantinya dengan teguran-teguran kecil yang penuh kasih sayang. Bencana yang menyapa kita hari ini sejatinya adalah lambaian tangan dari Sang Pencipta, sebuah ketukan pintu yang keras agar kita sempat mengusap mata, membasuh wajah, dan pulang ke rumah ketundukan sebelum senja benar-benar berganti malam.

1 2 3 4 5

Comments are closed.