
Stiker segel disobek Chrisman Hadi sebagai aksi penolakan terhadap aksi pengosongan Sekretariat DKS. (foto-foto: dok/IST)
iniSURABAYA.com – Kemelut terkait penggunaan ruang di Balai Pemuda Surabaya oleh para pelaku seni, khususnya yang bernaung di bawah bendera Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ternyata masih berlanjut, dan bahkan kian memanas.
Senin (4/5/2026) Pemkot Surabaya melakukan eksekusi pengosongan dengan mengusung seperangkat gamelan, dan menyegel pintu DKS. Tindakan itu dilakukan menyusul surat peringatan Satpol PP Kota Surabaya, bahwa ruangan yang selama ini digunakan DKS harus dikosongkan, paling lambat Sabtu (2/5).
Aksi petugas Satpol PP yang dilakukan tanpa disertai berita acara itu kontan mendapat perlawanan Chrisman Hadi dengan merobek stiker segel yang dipasang di pintu DKS. Hingga akhirnya pasukan Satpol meninggalkan lokasi, dan seniman-seniman malah berdatangan menyatakan solidaritas.
“(Tindakan) pengosongan Sekretariat DKS ini malah jadi blunder bagi Pemkot karena justru akan memperkuat solidaritas seniman untuk mempertahankannya. Ini modusnya sama dengan perobohan Masjid As Sakinah tahun 2017 dulu,” kata Henri Nurcahyo, pegiat budaya dalam rilisnya, Senin (4/5/2026).
Henry menambahkan, penolakan pengosongan Sekretariat DKS itu akan ditindaklanjuti dengan petisi di platform digital change.org. “Sekretariat DKS, bukan sebatas ruangan fisik belaka, melainkan jadi simbol perlawanan seniman Surabaya (bukan sebatas yang berKTP Surabaya). Karena itu maka sudah selayaknya kini mengubah dan memperkuat statusnya menjadi Markas Perlawanan Seniman Surabaya,” tulisnya.
















