
iniSURABAYA.com – Dalam sebulan belakangan Balai Pemuda Surabaya diwarnai keriuhan yang tak biasa. Bukan oleh gelaran pameran karya lukis atau instalasi. Tetapi lebih kepada adu argumentasi seputar asas legalitas beraktivitas.
Puncaknya, Pemkot Surabaya resmi menyegel Sekretariat Dewan Kesenian Surabaya. Langkah tegas ini pun menuai reaksi pro-kontra, terutama di kalangan pegiat seni-budaya.
Bonang Adji Handoko ~ Koordinator Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMAK) menuangkan catatan khusus untuk pembaca iniSurabaya.com terkait fenomena tersebut berikut ini.
KOTA selalu memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah wajah yang tampak di depan kamera: festival-festival besar, panggung seni yang ramai, poster-poster penuh slogan kebudayaan, dan pidato-pidato heroik atas nama rakyat.
Tetapi wajah kedua adalah wajah yang jarang terlihat dihadapan publik: ruang latihan yang bocor ketika hujan, komunitas kecil yang kesulitan biaya listrik, seniman kampung yang berpindah-pindah tempat karena tak punya ruang tetap, serta anak-anak muda yang ingin belajar berkesenian namun tidak pernah benar-benar menemukan celah pintu masuk.
















