Pilot Pesawat Sering Tak Mendapat Informasi Real-Time Genang Air di Landasan Pacu, Dosen ITS Ini Coba Kembangkan Alat Deteksi Runway

155 views
Dr Melania Suweni Muntini menjelaskan cara kerja alat Standing Water Detector yang terlaporkan lewat monitor.

iniSURABAYA.com – ITS Surabaya bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara (Puslitbang TU) Balitbang Kementerian Perhubungan terus berupaya mengembangkan hasil penelitiannya berupa Standing Water Detector (SWD) atau alat pendeteksi tingginya genangan air di landasan pacu bandar udara (bandara).

Kehandalan dari hasil penelitian yang dilakukan sejak tahun 2018 itu pun dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) secara daring, Kamis (26/11/2020).

Seperti diketahui, tingginya curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia memicu terjadinya genangan air pada landasan pacu atau runway di bandara, sehingga mengancam keselamatan pesawat yang akan mendarat.

Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mendukung pengembangan peralatan keselamatan penerbangan tersebut.

Ketua Peneliti SWD, Dr Melania Suweni Muntini MT menyatakan, bahwa persoalan utama dalam penerbangan ialah pilot pesawat terbang sering tidak mendapatkan informasi secara real-time mengenai genangan air (standing water) yang ada pada landasan pacu.

“Dengan alat ini, kita akan mendapatkan informasi mengenai ketinggian standing water yang ada pada landasan pacu, sehingga informasinya bisa digunakan untuk berbagai keperluan,” ungkapnya.

Selama enam bulan ke depan, lanjut dosen yang akrab disapa Melani kini, pengembangan yang dimulai sejak tahun 2018 ini difokuskan pada uji kehandalan SWD dengan pengujian yang dilaksanakan secara langsung di Yogyakarta International Airport (YIA).

Tahun ini pula, ditambahkan sensor untuk mengukur curah hujan yang terjadi secara real-time. “Pengukuran curah hujan akan bekerja bersama dengan pengukuran ketinggian air,” ujarnya.

Selain di bandara, pengujian pun dilakukan di laboratorium terbuka Departemen Fisika ITS untuk memastikan bahwa alat bekerja dengan benar di kedua tempat.

“Alasan lainnya juga karena jika di bandara, saat hujan kita tidak bisa melihat langsung alatnya karena berbahaya. Kalau di lab kita bisa mengalibrasi secara langsung setelah diakuisisi data,” tutur Melani.

Alat ini memiliki dua sistem deteksi yaitu hardware dan software. Untuk software, data-data seperti profil runway berupa kekasaran serta kemiringan runway. Sedang Hardware bisa mendeteksi temperatur dan kelembaban udara.

“Untuk metode deteksi standing water ini kita mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. KP 39 Tahun 2015 dan Annex 14, Aerodrome,” papar dosen Departemen Fisika ITS ini.

Pada pengoperasiannya, purwarupa SWD akan diletakkan di samping landasan pacu pada area touchdown. Saat hujan, aliran air dari landasan pacu akan menyentuh sensor pada purwarupa yang kemudian aliran ini dikonversikan menjadi data digital.

Selanjutnya digabungkan dengan data sekunder seperti profil landasan pacu, akan memberikan output berupa ketinggian standing water. Pengingat akan menyala saat 25 persen alat menunjukkan bahwa ketinggian telah sama atau lebih dari 3 milimeter. wid

#itssurabaya #landasanpacu #pilotpesawat #runway

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)