Menonton Film Aman? Begini Pendapat Anggota Fakultas John Hopkins Medicine

0
988
Presiden Joko Widodo menerima pelaku industri perfilman Indonesia.

iniSURABAYA.com | JAKARTA – Industri perfilman Indonesia yang sebelum pandemi menduduki peringkat sepuluh dunia sebagai pasar film terbesar di dunia dengan nilai sebesar 500 juta dollar AS di akhir tahun 2019, menderita penurunan sebesar 97 persen di kala pandemi sepanjang tahun 2020.

Sejak dibukanya Daftar Negatif Investasi di bidang perfilman di tahun 2016, perfilman Indonesia memasuki era baru dengan jumlah penonton yang terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan pertumbuhan sebesar 20 persen per tahun selama empat tahun terakhir sebelum pandemi.

Industri Perfilman Indonesia adalah industri yang menopang perekonomian Indonesia secara signifikan dengan lebih dari 50.000 tenaga kerja di subsektor film, animasi, video di tahun 2019, dan lebih dari 2.500 jumlah usaha.

Kontribusi industri film Indonesia ke GDP sebesar 15 triliun di tahun 2019. Bioskop yang berkontribusi atas 90 persen sumber pendapatan distribusi film Indonesia semenjak Maret 2020 telah ditutup sementara.

Hingga saat ini masih terdapat lebih dari 50 persen lokasi bioskop di Tanah Air yang belum diizinkan beroperasi kembali.

Hal ini tentu menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat untuk kembali menonton di bioskop saat sudah diberlakukan pelonggaran atas pembatasan tempat-tempat umum seperti restoran dan tempat rekreasi lainnya.

Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa sampai saat ini bioskop dianggap relatif aman untuk dikunjungi karena para pelaku usaha bioskop melakukan protokol kesehatan.

“Semua orang menghadap arah yang sama, hal tesebut membantu mengurangi penyebaran virus Covid-19,” tegas Jade Flinn, anggota fakultas dari John Hopkins Medicine.

Pernyataan serupa dikeluarkan Profesor Budi Haryanto, Ketua Satgas Pengendalian Covid-19 dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), yang menerangkan bahwa sebenarnya risiko penyebaran dalam bioskop lebih kecil dibandingkan restoran.

“Kita tahu, sampai sekarang tidak banyak yang menunjukkan terjadinya kluster baru dari restoran,” tuturnya.  

Di samping itu, sistem sirkulasi dan ventilasi udara di bioskop telah didesain sedemikian rupa untuk tetap memasukkan udara segar ke dalam ruangan bioskop. Terlebih lagi, bioskop telah dilengkapi sistem sirkulasi canggih seperti HEPA filter seperti di pesawat udara dan sebagian bioskop bahkan dilengkapi sistem disinfeksi UV-C light untuk semakin membersihkan udara di lingkungan bioskop.

Dampak pandemi bagi pekerja film juga sangat besar. Tahun 2019 terdapat 129 judul film nasional yang dirilis di bioskop dengan total penonton film nasional sebesar 52 juta orang.

Ini berarti satu judul film ditonton kurang lebih 400.000 penonton. Dibandingkan dengan kondisi selama pandemi, data per-akhir Februari 2021 menunjukkan terdapat sembilan judul film nasional yang dirilis di bioskop dengan total penonton hanya sekitar 400.000 orang.

Kerugian penerimaan pajak dari penonton bioskop saja mencapai 1,5 triliun dan pendapatan tidak langsung bioskop 1,2 triliun. Adanya platform distribusi secara streaming pun belum dapat menopang industri dan nilai pembelian film yang belum dapat menutup biaya produksi, terutama untuk film dengan bujet besar.

“Film bukan hanya merupakan komoditas hiburan, tapi juga membawa wajah Indonesia ke dunia internasional,” ujar Shanty Harmayn, produser film Indonesia. Secara potensi, lanjut Shanty, industri film Indonesia dengan keberagaman budaya dan jumlah penduduk Indonesia sebagai pasar utama sangatlah besar dan karenanya sangat layak untuk diselamatkan. wid

Comments are closed.