Pemkot Surabaya Bertekad Zero Stunting, Begini Strateginya

Di awal 2022 angka anak stunting terus mengalami penurunan signifikan. Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya bertekad tidak ada lagi anak stunting dalam tiga bulan mendatang.

iniSURABAYA.com – Pemkot Surabaya bertekad tak ada lagi anak stunting di Kota Pahlawan ini. Optimisme itu merujuk pada perkembangan positif yang tercatat setidaknya dalam beberapa waktu terakhir.

Selama 2022, Pemkot Surabaya mencatat angka stunting mengalami penurunan drastis, dari awalnya 5.727 anak stunting menjadi 1.785 anak.

Bacaan Lainnya

Dan per Sabtu (5/3/2022), angka itu menjadi 1.626. “Saya ingin tiga bulan ke depan dipantau terus. Jadi kan Surabaya Emas ini sebagai tools (alat penggerak), agar para kader melanjutkan gerakan ini secara berkelanjutan bergandengan tangan dengan Pemkot Surabaya,” tegas Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya.

Terlebih lagi, kata Eri, Surabaya baru mengumumkan pemenang Gebyar Lomba Bersama Wujudkan Surabaya Emas (Eliminasi Masalah Stunting) di halaman Taman Surya.

Pengumuman tersebut, dihadiri Eri Cahyadi dan Rini Indriyani, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, serta jajaran camat hingga lurah se-Surabaya.

Dengan adanya lomba Surabaya Emas itu, angka stunting mengalami penurunan dan dinyatakan lulus stunting. Meskipun dinyatakan lulus stunting, 308 balita yang ikut dalam lomba tetap dipantau gizinya oleh Pemkot Surabaya.

“Perjuangan kita belum selesai. Saya ingin bisa zero stunting, zero angka kematian ibu dan anak, serta zero gizi buruk. Sehingga yang sudah lulus stunting batasnya itu minimal. Ayo kuatno (dikuatkan lagi),” cetus Eri.

Eri berharap upaya mengatasi masalah stunting tidak hanya dilakukan Pemkot Surabaya dan TP PKK, tetapi juga peran Kader Surabaya Hebat serta seluruh stakeholder.

Dengan kebersamaan tersebut, diharapkan angka stunting di Surabaya bisa lebih ditekan lagi. “Kita didukung betul oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim. Sehingga semua stakeholder  menjadi satu bagian agar bisa zero stunting,” papar mantan Kepala Bapeko Surabaya ini.

Di kesempatan yang sama, Rini Indriyani menyatakan, lomba yang digelar pada 26 Januari diikuti balita berisiko stunting dari 154 kelurahan se-Kota Pahlawan. Tujuan lomba itu untuk meningkatkan komunikasi, kepedulian sosial, kesatuan dan kemanusian, serta menerapkan hidup sehat dan bergizi, sejak usia dini.

Menurut Rini, lomba Surabaya Emas itu merupakan bentuk komitmen TP PKK bersama Pemkot Surabaya untuk terus menurunkan angka stunting di Kota Surabaya.

Komitmen itu terus dibangun bersama oleh seluruh elemen masyarakat melalui berbagai bentuk kolaborasi. ”Kami harap kegiatan pencegahan dan eliminasi stunting di Kota Surabaya tidak terbatas pada acara ini saja. Tetapi nanti bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari secara berkelanjutan,” pesannya.

Dalam lomba itu, ada tiga pemenang yaitu balita Alif Akhtar Putra Pramono dari Kelurahan Tambakrejo sebagai juara satu, juara dua diraih balita Samora Mashel Karenza dari Kelurahan Peneleh, dan juara tiga dimenangkan balita Almira Ramadhani dari Kelurahan Bulak Banteng.

Lomba tersebut ada beberapa kategori kelompok. Setiap kelompok terdiri atas balita bersama orang tua dan Tim Pendamping Keluarga (TPK). Selain itu, juga ditentukan pula 20 pemenang kategori juara favorit yang terdiri atas keluarga dan TPK. ana

Pos terkait