
Di momen kali ini, kata Muit, agenda Bulan Menggambar Nasional diikuti sekitar 250 komunitas dari Sabang sampai Merauke. Khusus untuk pameran ‘Ritu Art (L)’ saja, pelukis yang gabung berasal dari Jombang, Sidoarjo, Lamongan, Lawang, Nganjuk, dan tentu juga dari Surabaya.

Muit menyatakan, di momen pameran kali ini sengaja menyajikan karya-karya drawing yang sebagian besar memakai media kering untuk menggambar, seperti pensil, crayon, spidol, dan charcoal.
“Tetapi ada pula yang pakai cat air. Karena drawing kan dasar seni lukis. Proses belajar menggambar diawali dari sketsa, arsir hitam putih,” paparnya.
Dalam perkembangannya, seni rupa ini berkembang pesat dengan berbagai kreativitas para senimannya sehingga media pun ada yang kemudian memakai cat.
Lalu bagaimana dengan daya beli masyarakat? Apakah seiring dengan menggeloranya semangat para seniman yang memenuhi berbagai ruang pamer?
“Masih tiarap, Mas,” cetus Muit. Tetapi dia optimistis dan terus menyemangati sesama perupa untuk terus berkarya.
“Bagaimana pun seni rupa jangan sampai mati. Kami harus tetap berekspresi, terus bergerak apa pun yang terjadi,” tandasnya.
Muit menegaskan, ada yang beli atau pun tidak, para seniman akan terus menggoreskan kuasnya. “Kami, para perupa ini kan memang belum hidup dari lukisan, bahkan masih menghidupi lukisan,” imbuhnya.
Melalui agenda pameran ini pula, Muit terus membakar semangat berkreasi teman-temannya. “Intinya adalah kebersamaan dan memajukan seni rupa agar lebih berjaya. Juga tidak ada kedaerahan, karena pameran ini merangkul seniman berbagai daerah,” pungkasnya. ap
















