Wujudkan Surabaya Kota Layak Anak, Puspaga di Balai RW Berikan Layanan Konsultasi Masalah Anak hingga Calon Pengantin

0
593

ILUSTRASI : Kegiatan Sinau dan Mengaji Bareng di Balai RW di Kota Surabaya.

iniSURABAYA.com – Guna mewujudkan Kota Surabaya sebagai Kota Layak Anak (KLA), Pemkot Surabaya fokus pada penguatan dan peningkatan ketahanan keluarga.

Pelaksanaannya, dimulai dari metode pola asuh pada anak atau parenting yang tepat bagi anak. Untuk mengimplementasikan kegiatan tersebut, Pemkot Surabaya menyediakan layananan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) sampai di Balai RW.

Menurut Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya, Puspaga merupakan layanan konseling atau konsultasi yang dilakukan secara langsung maupun secara daring mengenai anak, remaja, keluarga, anak berkebutuhan khusus, hingga calon pengantin (catin).

Layanan fasilitas tersebut berupa sosialisasi, edukasi, dan informasi. Serta, bimbingan masyarakat melalui kegiatan catin, kelas parenting, Puspaga Balai RW, Talkshow Ngobrol Asik Bareng Puspaga (Ngobras), Live IG (siaran langsung melalui aplikasi Instagram)/Webinar Parenting Jumat Seru, dan publikasi komunikasi informasi edukasi media cetak dan elektronik.

Eri Cahyadi menekankan bahwa program tersebut sudah berjalan. Dia lalu menunjuk contoh Balai RW 5 Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng Surabaya sebagai Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).

“Di sana juga sudah berjalan program Sinau dan Mengaji Bareng,” kata Cak Eri Cahyadi, Kamis (22/6/2023).

Cak Eri –begitu dia akrab disapa—menandaskan, selain menjadi sarana pembelajaran dan konseling bagi para orang tua di Kota Pahlawan, Puspaga juga menyediakan bimbingan konseling pranikah.

Puspaga memberikan berbagai layanan fasilitas untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi persoalan anak dan keluarga. Semua fasilitas yang diberikan Puspaga dapat diakses secara gratis oleh seluruh warga Kota Surabaya.

“Puspaga juga memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Selain itu pemenuhan hak anak di tingkat RW bagi keluarga berjejaring banyak pihak, serta masyarakat pemerhati keluarga khususnya perempuan dan anak,” tegasnya.

Terpisah, Ida Widayati, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-P2KB) Surabaya mengatakan, saat ini  207 Balai RW di Surabaya telah membuka layanan Puspaga dengan memberikan bimbingan konseling bagi orang tua untuk memahami peran mereka dalam membentuk karakter anak.

“Dari sisi petugas kami sudah bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di Surabaya, termasuk mahasiswa penerima beasiswa yang difasilitasi Pemkot Surabaya. Mereka membantu mendata beberapa kasus yang membutuhkan psikolog profesional maupun konselor yang ada di DP3A-P2KB,” urainya.

Ida mengaku, DP3A-P2KB Surabaya membutuhkan banyak relawan yang bergelar sarjana psikologi dalam pelaksanaan Puspaga di Balai RW. Sebab, jika belum menyelesaikan pendidikan tersebut, mereka belum bisa menerima konseling.

Karenanya, Ida berharap semakin banyak lulusan yang menyandang gelar sarjana psikologi dapat bekerjasama dengan Pemkot Surabaya dalam memberikan pelayanan kepada warga melalui Puspaga di Balai RW.

“Kami masih berupaya menjaring itu karena membutuhkan banyak tenaga untuk Puspaga di Balai RW. Sebab, layanan Puspaga berjalan bersamaan. Semoga kedepan banyak yang bisa bergabung,” ungkapnya.

Ida menyatakan bahwa sebagian besar keluhan yang diterima di Puspaga Balai RW adalah mengenai anak-anak yang dianggap tidak patuh terhadap orang tua. Keluhan itu disampaikan oleh orang tua yang belum memahami cara berkomunikasi dengan anak.

Ida menekankan, semua tidak selalu kesalahan anak. Karena banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya, sehingga memicu terciptanya komunikasi yang kurang baik dengan anak.

“Kami rutin melakukan sosialisasi pola asuh dan pencegahan kenakalan remaja agar mereka tahu kenapa anak bisa berperilaku seperti itu. Serta bagaimana cara untuk bisa dipahami,” urainya.

Ida mencontohkan, dalam pelaksanaan Puspaga di Balai RW, DP3A-P2KB Surabaya juga berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya. Salah satunya melalui program Sinau dan Ngaji Bareng di Balai RW.

Menurut Ida, Puspaga di Balai RW juga bisa menjadi ruang curhat bagi anak. Hingga saat ini, para petugas Puspaga di Balai RW bersama perguruan tinggi terus memberikan edukasi mengenai pola asuh yang tepat bagi anak.

“Forum Anak Surabaya (FAS) saat ini sudah berjalan untuk melakukan pendekatan kepada anak-anak lewat Sinau dan Ngaji Bareng di Balai RW. Harapannya akan terjalin kedekatan. Nantinya FAS juga bisa menjadi konselor sebaya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dalam upaya penanganan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, DP3A-P2KB Surabaya telah memetakan kebutuhan tersebut. Pada kasus tertentu yang membutuhkan pendampingan dari psikolog profesional, DP3A-P2KB Surabaya telah membaginya di setiap wilayah di Kota Surabaya.

“Pada beberapa kasus kekerasan, Puspaga tingkat kota akan turun untuk melakukan pendampingan. Petugas menyampaikan data kasus dan korban, langsung kami tindaklanjuti. Untuk kasus yang bersifat sedang maka konselor DP3A-P2KB yang akan turun melakukan pendampingan,” pungkasnya. wid

Comments are closed.