
Tiga perempuan penjaga hutan memapar kisah perjuangan mereka melalui buku 'Perempuan Penjaga Hutan' di Santika Premier Gubeng Surabaya.
Buku ini disusun oleh Agung Putu Iskandar dari Agna Komunika dan sejumlah penulis dengan pendampingan dari civil society organization (CSO) yang selama ini bergerak bersama para perempuan penjaga hutan atau yang disebut sebagai women champion.
Bincang-bincang buku dilakukan bersama dua narasumber Pinky Saptandari, seorang gender specialist dan dosen Prodi Antropologi FISIP Universitas Airlangga, serta Mujtaba Hamdi, Direktur Wahid Foundation.
Dari ketiga perempuan penjaga hutan itu diketahui sejumlah kelompok perempuan menginisiasi pengelolaan lahan taman nasional melalui skema perhutanan sosial (perhutsos).
Gerakan para perempuan tersebut berhasil menciptakan berbagai dampak mulai dari pemulihan lahan hutan dari kerusakan lingkungan hingga pemberdayaan ekonomi.

Pinky Saptandari, seorang gender specialist dan dosen Prodi Antropologi FISIP Universitas Airlangga
Acara yang dimoderatori oleh Heti Palestina Yunani, yang juga menjadi editor dalam buku tersebut, dimulai dengan paparan Rita Wati merintis perhutsos di desanya.

















