
Aksi senam masal menandai peringatan Bulan Peduli Kanker Payudara Internasional yang diselenggarakan Adi Husada Cancer Center di Surabaya Town Square.
Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini mengatakan, selama sekitar 12 tahun menjalani profesi sebagai dokter bedah onkologi, selalu menghadapi pasien yang diketahui menderita kanker payudara dalam stadium berat.
Usia Muda
Dokter Arga tak menepis, belakangan penderita kanker bergeser ke mereka yang usianya lebih muda. “Dulu usia lanjut 50 tahun ke atas, sekarang umur 40 tahun sudah banyak yang kena kanker,” ungkapnya.
Pola konsumsi makanan dan gaya hidup, diakui dr Arga bisa jadi pemicu timbulnya kanker pada seseorang. “Bisa juga karena beban hidup. Stres sehingga tidak ada waktu untuk istirahat,” ujarnya.
Karena itu, dr Arga mengingatkan pentingnya relaksasi. Sesekali healing. Intinya, jalani semua sesuai porsinya. Jangan berlebihan,” begitu pesannya.
Pernyataan senada disampaikan Virgie Keen, Marketing Manager AHCC. “Munculnya kanker tidak dapat diprediksi dan dicegah secara total. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi atau meniadakan faktor risiko,” cetusnya.
Dia menambahkan,”Misal, makan makanan sehat, memastikan indeks masa tubuh kurang dari 25. Tidur cukup dan berkualitas, menghindari polusi, serta melakukan olahraga teratur lima kali dalam seminggu selama 30-60 menit.
Acara yang diadakan di area terbuka Surabaya Town Square itu diawali dengan kegiatan senam bersama. Kemudian dilanjutkan komitmen bersama dengan menuliskan dukungan kepedulian akan pencegahan kanker payudara di Wall of Hope yang sudah disediakan panitia. ap















