
iniSURABAYA.com – Jika politik kotor, puisi yang membersihkan. Jika politik bengkok, sastra yang meluruskan.
Kata-kata ini begitu mengusik suara hati. Dan siapa yang menyatakannya –siapapun yang mencintai sastra—sangat mungkin tahu dari mana sumber pernyataan itu.
Betul. Dia adalah John F Kennedy, Presiden ke-35 AS yang tewas pada 22 November 1963 di Dallas, Texas, ditembak Lee Harvey Oswald seorang veteran marinir AS.
Banyak orang mempercayai bahwa peristiwa ini bukan digerakkan pelaku tunggal, melainkan suatu konspirasi politik, disebabkan visi Kennedy yang dianggap bertentangan dengan oligarki di AS saat itu.
Begitulah bahwa orang yang mencintai puisi, sosok yang senantiasa mendambakan sastra, dipercayai sebagai humanis –menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
















