
Dan sumber dari semuanya itu –antara lain—adalah politik konspirasi yang dilempar ke masyarakat menggunakan banyak cara. Di antaranya dengan mengacaukan lalu-lintas opini yang lantas mendominasikan kebenaran palsu itu.
Ketika Rohanudin membuka bait pertama puisi berjudul ‘Bicaralah yang Baik-Baik’ yang menarasikan gonjang-ganjing politik, di situlah rasa kemanusiaannya tercuat menyentuh:
di hari-hari politik yang panas
kita semakin murung
merasakan Indonesia yang gelisah
Indonesia yang cemas
badannya berkeringat dan gemetar
lantaran kehilangan ruh dan energi
sibuk menepis suara-suara sumbang
tak berirama
Dari baris pertama bait ke-1 puisi: ‘di hari-hari politik yang panas’, kita sudah bisa menebak sebagai reaksi apa. Sangat boleh jadi itu berkaitan dengan pelaksanaan Pemilu. Atau: Pilkada, misalnya.
















