
Dan suasana itu digambarkan Rohan sebagai ‘mereka yang menengadahkan kebenaran, penegakan keadilan, kecerdasan, kesuburan pikiran’ : bukan kegaduhan.
Pada bait ke-3 puisi ‘Bicaralah yang Baik-Baik’, Rohanudin menggunakan metafora ontologis. Menggambarkan keperkasaan burung garuda yang mulutnya memuntahkan kemarahan.
Mengajak para pemangku masjid, gereja, pura, vihara, dengan bahasa isyarat menggosok-gosokkan paruh dan cakarnya di dinding-dinding rumah ibadah itu, agar ikut berperan-serta mengajak masyarakat untuk senantiasa bicara yang baik-baik. Sebab, kita sedang berjalan di pematang yang licin …
Pada bait terakhir puisi ini –bait ke-6—Rohanudin mencoba memperingatkan:
dengarkan semua :
rakyat bukan musuh
bukan alat tabuh genderang perang
rakyat adalah penentu tertinggi merajut kohesi bangsa,
kedaulatan dan kemanusiaan
bersatulah Indonesia
Perhatikan baris 4-7 bait terakhir puisi ‘Bicaralah yang Baik-Baik’ ini: ‘rakyat adalah penentu tertinggi merajut kohesi bangsa, kedaulatan dan kemanusiaan, bersatulah Indonesia’
















