
Di sini sesungguhnya ‘kedaulatan dan kemanusiaan’ dualisme yang tak bisa dipisahkan, mirip esensi kisah tragis Kennedy. Tentu masih ada kisah-kisah tragis lainya yang inspiratif yang dijadikan para penyair sebagai api kreativitas dalam menegakkan kebenaran.
Tentu bukan kebenaran palsu yang melanda masif di zaman kasunyatan semu ini. Dan itu ditorehkan oleh Rohanudin ke dalam rangkaian kata-kata menyentuh. Sehingga saya makin yakin bahwa sesungguhnya bahasa paling indah adalah puisi. *
Penulis: Amang Mawardi (mantan jurnalis, dan kini penulis di sejumlah platform)
















