
Demikian juga dengan Kennedy. Ketika humanismenya dianggap terlalu tinggi sehingga ditengarai mengganggu sistem kapitalisme AS, maka pelenyapan pun ‘terpaksa’ dilakukan –begitu setidaknya opini yang berhembus saat itu.
Dalam konteks jagad puisi, barangkali perspektif itu bisa saya hubungkan dengan pernyataan Kennedy di alinea pertama artikel ini, berkaitan puisi karya M Rohanudin, penyair kelahiran Sumenep.
Hal itu akibat saya mencoba meresapi puisi berjudul ‘Bicaralah yang Baik-Baik’ yang ditulis oleh penyair kelahiran Sumenep tersebut dan termuat pada buku kumpulan puisi ‘Bicaralah yang Baik-Baik’ yang menyajikan 27 puisi.
Puisi yang termuat pada halaman 30-31 buku kumpulan puisi ini, mengingatkan kita untuk tidak gampang bicara, tidak asal bunyi –dalam konteks lalu lintas opini pada era post truth yang begitu sulit dikendalikan. Sehingga masyarakat dibikin gagap mengartikulasikan dimana sesungguhnya posisi kebenaran.
Maka inilah zaman kasunyatan semu, era post truth yang menyebabkan masyarakat terjebak pada kubangan kebenaran palsu. Seolah-olah benar, tapi sesungguhnya jauh dari benar.
















