
Alika Jantinia dan Nayla Purnama saat hadir di special screening film 'Gowok Kamasutra Jawa' di Studio XXI Tunjungan Plaza Surabaya, Rabu (28/5/2025).
iniSURABAYA.com – Jawa tidak selalu patriarki. Terkhusus daerah di luar Jogja-Solo, baik Jawa Pesisiran Tegal hingga Rembang, maupun Jawa Ngapak, yakni Banyumas-Temanggung hingga Cilacap.
Kesadaran terhadap fakta itu pula yang melatari alasan Hanung Bramantyo menghadirkan film, ‘Gowok Kamasutra Jawa’. Hanung mengaku tertarik menggali budaya Jawa dari sudut pandang yang jarang tersorot.
“Saya selalu tertarik memfilmkan budaya saya, Jawa. Saya merasa Jawa, yang dianggap budaya Indonesia paling besar dan dominan, selalu ditafsirkan sebagai budaya yang patriarkal (laki-laki centris), terutama urusan ke-rumah tangga-an,” paparnya.
Hanung menambahkan,”Dalam tradisi Gowok yang saya gali dengan sangat terbatas ini, disampaikan bahwa laki-laki harus memiliki pemahaman atas tubuh perempuan, sebelum dia menjalani pernikahan.”
Sebab keharmonisan dalam rumah tangga ditentukan pada bagaimana hubungan suami-isteri di ruang privat.
















