RIAS: Tampung Anak ‘Nakal’ di Asrama untuk Dilatih Wirausaha sampai Wawasan Kebangsaan

Suasana asrama di Rumah Ilmu Arek Suroboyo. (foto: dok Humas Pemkot Sby)
Kurang Perhatian Orang Tua
“Waktu itu berhasil. Sepulang dari sana anak-anak itu langsung menangis sampai mencium kaki ibunya. Ibunya juga kaget, seumur-umur anaknya nggak pernah kayak gitu, biasanya kalau dibilangin nggak mau nurut,” cerita Eri Cahyadi, Selasa (3/6/2025).
Pria yang akrab disapa Cak Eri Cahyadi ini menambahkan, orang tua anak-anak itu sampai berterima kasih kepada Pemkot Surabaya. Bahkan, mereka juga meminta pemkot untuk terus menggelar Sekolah Kebangsaan.
Namun, ujar Cak Eri, perubahan sikap anak-anak itu ternyata tidak berlangsung lama. Sekitar tiga bulan setelah mengikuti Sekolah Kebangsaan, beberapa anak kembali ikut tawuran dan kembali terjaring.
“Saat itu, saya kaget dan akhirnya menggali lebih dalam akar masalah kenakalan remaja di Surabaya. Ternyata setelah didalami, ada masalah besar yang harusnya diselesaikan dulu. Anak-anak ini kambuh lagi ikut tawuran, salah satunya karena kurang perhatian dari orang tuanya. Kenakalan remaja itu akibat ekosistem sosial lingkungan anak tersebut,” bebernya.
Eri Cahyadi tidak menampik bahwa faktor ekonomi keluarga turut memberi andil atas kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya. Hingga akhirnya orang tua terpaksa bekerja sampai malam, demi menghidupi keluarganya.
















