
ILUSTRASI : Aksi bakar-bakar di perempatan Jl Basuki Rahmat-Jl Tegalsari Surabaya.
Timeline Surabaya Membara
Pukul 19.00– Arus warga mulai meningkat di sekitar Balai Pemuda dan Jalan Gubernur Suryo.
Pukul 20.30– Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur sempat menemui massa, ditemani Mayjen TNI Rudy Saladin, Pangdam V Brawijaya. Ia meminta warga tenang. “Saya harap jangan anarkis, jangan terprovokasi,” ucapnya.
Pukul 21.00– Dentuman kembang api terdengar. Tak lama kemudian, bom molotov dilempar ke Gedung Grahadi. Api cepat menjalar, melahap ruang kerja wakil gubernur, pressroom dan 21 motor pegawai.
Pukul 21.30– Polsek Tegalsari diserbu. Api membakar lobi dan ruangan pelayanan publik. Hampir seluruh bangunan ludes.
Pukul 22.00– Massa mulai menjarah isi Gedung Grahadi. Laptop, printer, karpet, hingga kursi kantor dibawa keluar. Suara teriakan “cair, cair cak!” menggema di Jalan Basuki Rahmat.
Pukul 23.06– Truk-truk polisi datang dari arah Tunjungan. Massa perlahan bubar, meninggalkan puing dan asap hitam yang masih membumbung.
Suara dari Jalanan
Surya (39), warga Waru yang malam itu melintas di Tegalsari terperangah melihat kobaran api. “Pas lewat sini. Terbakar semua ruangannya,” katanya. Ia tidak tahu apakah ada korban jiwa di dalam kantor polisi yang sudah luluh lantak.
Di sisi lain, tiga orang remaja perempuan berboncengan naik motor mengaku datang hanya untuk ikut ramai-ramai. “Awalnya pengin lihat kembang api, ternyata malah ada kebakaran gede. Aku lari takut ketembak gas air mata,” ujarnya sambil buru-buru melarikan kendaraannya.
















