
Sawung Dance digeber selama dua hari (Jumat-Sabtu, 19-20/9/2025) di Gedung Cak Durasim Surabaya. (foto-foto: Julian Romadhon)
“Lewat koreografi, mereka menjelajahi batas-batas antara stabilitas dan kehancuran, keintiman dan keterasingan, diam dan ledakan. Tubuh bukan sekadar penampil, melainkan penggugah kesadaran kolektif,” paparnya.
Suburkan Akar Tari
Sawung Dance Festival 2025 dengan tema ‘Tremor, Bodies at the Edge of the Change’ merupakan penyelenggaraan ke-6 sejak pertama kali digelar pada 2015. Konsisten hadir di Surabaya, festival ini menjadi satu-satunya festival tari kontemporer di Jawa Timur yang membuka ruang bagi koreografer muda.
Tahun ini, program Karya Bertumbuh kembali digelar. Empat koreografer muda terpilih adalah Adam Mustofa (Ponorogo), Angga I Tirta (Surabaya), Mistahul Jannah (Banyuwangi), dan Nia Anggraini (Surabaya) mengikuti residensi, mentoring, serta pendampingan artistik bersama koreografer internasional Hari Gulur.
Mereka akan menampilkan karya hasil proses tersebut pada 19–20 September 2025. Festival juga menghadirkan Main Performance oleh Hartati dan Ari Ersandi, yang sekaligus membuka kelas workshop untuk berbagi pengalaman dengan penari muda Jawa Timur.
Adapun program Residensi Reset Artistik mempertemukan praktisi seni dari Surabaya, Malang, Madiun, dan Tulungagung. Mereka diajak menelaah praktik artistik selama festival untuk kemudian dikembangkan di komunitas masing-masing. */ap
















