
Imung Mulyanto (kiri) menyerahkan buku karya kepada Pungky Kusuma, GM Quds Royal Surabaya disaksikan Sasetya Wilutama.
“Tentu ini point penting, mengingat tabiat pembaca zaman now yang tidak sabaran. Segera scroll-scroll pindah mencari tulisan lain, begitu melihat alinea awal yang tidak memikat,” tandasnya.
Sebagian cerpen dimulai dengan kalimat langsung yang efektif untuk membetot perhatian. Seperti “Maling…. maling….!” (Runtah), atau “Cak… Cak Sipan… bangun, Cak!” (Tidur Panjang). Boleh jadi ciri khas ini terbentuk karena penulis juga seorang penulis skenario tv/film kawakan.
Di dunia sinema, trik ini dikenal dengan konsep opening hook, yaitu adegan pembuka yang memang dirancang untuk mengundang curiosity, rasa ingin tahu penonton.
Kemungkinan kedua, jurus ini juga dipengaruhi oleh kaidah penulisan jurnalistik, mengingat penulis juga sosok wartawan senior. Di dunia pers dikenal istilah lead. Artinya, alinea pertama berita haruslah menohok, menyentuh, atau minimal bikin kepo.
“Aspek berikutnya yang saya sukai dari kumpulan cerpen ini, adalah gaya penulisannya yang lancar dan renyah. Deskripsinya itu lho, begitu visual. Cerita dibangun melalui adegan dan dialog dalam narasi detil,” urainya.

















