
Imung Mulyanto (kiri) menyerahkan buku karya kepada Pungky Kusuma, GM Quds Royal Surabaya disaksikan Sasetya Wilutama.
Mantan Tim Ahli Dinas Kominfo Jatim ini menyadari, kaidah penulisan jurnalistik dan prosa atau puisi sangatlah berbeda. Karya jurnalistik berdasarkan fakta faktual, fenomena, atau opini. Sementara prosa atau puisi murni fiksi atau hasil imajinasi.
“Inilah eksperimen saya. Saya mencoba menyisipkan data faktual di antara fiksi hasil imajinasi. Hasilnya terserah pembaca. Mungkin ada yang suka karena memperkaya, tetapi bisa jadi ada yang merasa terganggu karena perjalanan alur cerita menjadi tidak mulus,” kata anggota komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas) yang sudah meluncurkan tujuh antologi puisi ini.
Pembaca Boleh Memilih
Dr Wawan Setiawan, Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang juga sastrawan dalam catatan pengantarnya juga mengingatkan, eksperimen memasukkan data sebagaimana sifat karya jurnalistik, terkadang memang mengganggu.
“Tetapi pembaca boleh memilih sikap yang mana. Sebagai pembaca tradisional atau sebagai pembaca yang suka kekayaan info empiris. Pembaca tradisional mungkin bersikap yang pertama,” cetusnya.
Namun Adriono, editor buku ini menyebut, membaca kumpulan cerpen ini sungguh asyik karena sang penulis memiliki kepiwaian dalam mengolah cerita. Intronya dibikin memikat, sehingga memancing minat baca.
















