
Imung Mulyanto (kiri) menyerahkan buku karya kepada Pungky Kusuma, GM Quds Royal Surabaya disaksikan Sasetya Wilutama.
Maka yang tergambar di benak pembaca seperti layaknya menonton sebuah film atau sinetron. “Apalagi jika cerpen itu berhasil ditutup dengan surprise ending, semisal cerpen ‘Video Call’,” ucap Adriono yang baru saja meluncurkan buku ‘Hatiku Sepanjang Musim’ ini.
Muatan Informasi
Diakui atau tidak, kata Adriono, latar belakang profesi penulis memang memengaruhi karyanya. Kebiasaan sebagai jurnalis yang gemar melacak data dan menggali referensi, membuat beberapa cerpennya ikut bermuatan informasi.
Muncul angka statistik jumlah napi yang tertangkap KPK, jumlah ponsel pintar di dunia, spesifikasi ilmiah biawak (varanus salvator), juga ciri-ciri penderita post power syndrome. Cerpen-cerpennya juga bersinggungan dengan isu aktual dan berkaitan dengan situasi kekinian seperti fenomena #KaburAjaDulu, SDG’s, restoratif justice, termasuk nasib perih pasien BPJS.
“Sah-sah saja. Meskipun bagi sebagian orang mungkin penambahan referensi seperti itu dinilai dapat mengurangi taste sastranya,” imbuhnya.
Adriono menambahkan, pada cerpen ‘Runtah’ yang dipilih sebagai judul buku, problem sampah tidak saja disajikan sebagai masalah konkret yang membelit tokoh-tokohnya, tetap ditarik naik hingga menjadi konseptual, filosofis, dan simbolik.

















