
Imung Mulyanto (kiri) menyerahkan buku karya kepada Pungky Kusuma, GM Quds Royal Surabaya disaksikan Sasetya Wilutama.
Ditemui usai peluncuran ‘Runtah’ yang dilakukan di Hotel Quds Royal Surabaya, Imung menambahkan, bahwa kemudian ada yang menjadi universal, itu sama sekali tak terpikirkan di saat menulis.
“Hal yang selalu tebersit dalam benak saya, sebagai jurnalis karya saya tak boleh lepas dari konteks masyarakat. Syukur-syukur bermanfaat bagi masyarakat,” kata mantan redaktur Surabaya Post dan GM Arek TV ini.
Kumpulkan Data dengan Riset Dokumentasi
Hal lainnya, saat hendak menulis cerpen, Imung menjalani proses sebagaimana seorang jurnalis. Dia mengumpulkan data dengan riset dokumentasi, observasi, dan sesekali interview.
Bedanya, bahan baku faktual itu bukan lantas ditulis atau direkonstruksi sebagaimana saat menulis berita, tetapi diendapkan untuk kemudian direfleksikan menjadi karya fiksi.
“Setelah tidak menjadi jurnalis yang selalu diburu-buru deadline, sekarang saya punya cukup waktu untuk kontemplasi dan sublimasi. Jadilah karya-karya saya sekarang berupa cerpen, puisi, dan novel,” tutur penulis film seri Aku Cinta Indonesia (ACI) yang legendaris di tahun 1980-an ini.

















