Surat Terbuka Hamid Nabhan untuk Wali Kota Surabaya: Seniman Layak Punya ‘Rumah’ di Kotanya Sendiri

0
225

Amang Rahman, OH. Supono, Daryono, dan banyak pelukis terkenal lainnya yang pernah meneteskan keringat yang menghiasi lantai-lantai ini dengan warna-warna kehidupan yang indah. Di dunia musik nama-nama seperti Gombloh, Leo Kristi, Naniel hingga Franky Sahilatua sempat berkumpul dan mencipta di sini.

Dan juga tak ketinggalan sastrawan seperti Muhammad Ali yang menemukan suara untuk menyampaikan cerita masyarakat Surabaya juga dari ruang ini.

Balai Pemuda juga menjadi saksi bagi para seniman, ketika tahun 1969 saat Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-7 digelar di Surabaya. Para seniman Aksera yang berkumpul di Balai Pemuda bekerja tanpa lelah untuk membuat spanduk, tulisan, dan karya seni yang memeriahkan acara besar tersebut.

Ini membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang karya, tapi juga tentang cinta Tanah Air serta kontribusi nyata. Dulu tempat ini adalah tempat singgah bagi seniman dari berbagai generasi dan dari berbagai kota di Tanah Air, mereka datang bukan hanya untuk pamer, tapi untuk berbagi, menginspirasi, dan membuktikan bahwa Surabaya adalah rumah bagi kreativitas yang besar.

Tak hanya ruang-ruang untuk berkarya, Balai Pemuda juga memiliki hati yang berdenyut. Sebuah kantin yang dikelola oleh Mak Ning (begitulah kami sering memanggilnya) seorang janda tua yang telah melayani selama puluhan tahun lamanya, ia selalu menghidangkan makanan hangat untuk para seniman dan juga supir dan para pegawai DPRD Surabaya.

1 2 3 4 5 6

Comments are closed.