Surat Terbuka Hamid Nabhan untuk Wali Kota Surabaya: Seniman Layak Punya ‘Rumah’ di Kotanya Sendiri

0
227


Gedung ini dibangun lebih dari 110 tahun lalu tepatnya tahun 1907 oleh arsitek Belanda Westmaes, awalnya bernama ‘De Simpangsche Societeit’.

Setelah kemerdekaan, pada tanggal 12 Desember 1957 gedung ini diserahkan kepada Pemerintah Kota Surabaya dan diberi nama Balai Pemuda, dengan fungsi sebagai balai pertemuan umum dan markas gerakan pemuda.

Sejak 30 September 1971, setelah didirikan melalui  pertemuan bersama Walikota Soekotjo Sastrodinoto, sekretariat DKS beserta galerinya telah berada di sebelah utara Balai Pemuda yang kemudian menjadi Pusat Pagelaran Kesenian Surabaya (PPKS).

Bahkan sebelum itu, pada tahun 1968, Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) telah menjadikan ruang di Balai Pemuda sebagai tempat berkegiatan, sebagai lembaga pendidikan seni rupa bergaya sanggar yang melahirkan banyak pelaku seni ternama.

Hingga tahun 1972-an, Aksera  kemudian dipindahkan ke Dukuh Kupang, dan kini bertransformasi menjadi galeri publik untuk karya seniman Surabaya.

Tempat ini bukan hanya menjadi rumah bagi Bengkel Muda Surabaya (BMS) yang membina generasi muda seniman, melainkan lanskap dimana nama nama besar seniman Surabaya tumbuh dan berkembang.

1 2 3 4 5 6

Comments are closed.