
Hamid Nabhan (foto: dok/IST)
Ketika surat perintah pengosongan tiba di tangannya yang gemetar saat ia membacanya, dan air mata yang tak dirasakan menetes di pipinya. “Saya sudah menganggap tempat ini sebagai rumah saya,” ujarnya dengan suara gemetar.
Selama puluhan tahun kantin ini bukan hanya sumber nafkah, tapi juga tempat cerita-cerita terlontar dalam berbagi, kekhawatiran dan harapan diutarakan, dan tawa bersama mengisi sudut kecil yang penuh kehangatan itu.
Kini ia bimbang harus kemana dan bagaimana untuk mencari nafkah setelah semua yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun harus ditinggalkan.
Untuk saya pribadi, di Galeri DKS di Komplek Balai Pemuda adalah tempat saya pertama kali menunjukkan karya saya kepada publik. Di sana saya banyak belajar dan menemukan bahwa seni bukan hanya tentang lukisan, patung, musik, tari, atau kata-kata, tapi tentang menyampaikan suara kota kita.
Setiap sudut ruangan itu menyimpan cerita dari ungkapan karya yang terlukis di kanvas, hingga nyanyian yang menyuarakan harapan rakyat serta puisi-puisi yang mengabadikan jiwa kota. Bahkan lezatnya masakan Mak Ning yang selalu mengisi hari-hari yang penuh tawa telah menjadi bagian dari kenangan tentang rumah kita.















