
Hamid Nabhan (generate AI)
Seperti yang pernah saya tuliskan dalam cuplikan kata (quote): “Puisi bermula dari ekspresi yang tersimpan di dalam hati, lalu berubah menjadi kata, dan kata menjelma menjadi kekuatan.”
Pemahaman ini selaras sepenuhnya dengan apa yang disampaikan penyair besar Kahlil Gibran, yang menggambarkan hakekat puisi dengan sangat indah dan mendalam:
“Puisi bukanlah pendapat yang dinyatakan. Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum. Bagaikan penenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak.”
Bagi Gibran, puisi adalah jiwa yang berbicara, bukan sekedar pikiran yang berpendapat. Ia lahir dari rasa, darah, dan hati nurani, bukan sekadar akar atau aturan. Ia adalah kekuatan yang diam-diam masuk ke sanubari, membimbing manusia mengenal kebaikan, keindahan, dan makna hidup, lalu mengubah hati selamannya.
Di masa kini pun, pesan itu tetap hidup: puisi adalah jalan kita kembali merasakan kagum, kelembutan, dan kepeduliam, memanusiakan manusia kembali di tengah dunia yang makin kering dan serba cepat.
















