
Adriono yang menjadi penyunting novel Gemblak Terakhir yang ditulis duet oleh Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama.

Cover novel Gemblak Terakhir karya Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama yang disunting oleh Adriono.
Di situlah sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cara untuk menyimpan kembali pengalaman sebuah masyarakat dalam ruang yang aman untuk dapat sewaktu-waktu dibuka dan dimanfaatkan kembali.
Persoalannya, memori kolektif tidak selalu hadir dalam bentuk sejarah yang tertulis. Banyak di antaranya justru hidup melalui cerita lisan, kebiasaan, simbol, pantangan, istilah, kesenian, bahkan cerita yang oleh sebagian orang dianggap mitos.
Ketika semua itu masuk ke dalam karya sastra, pembaca tidak hanya berhadapan dengan cerita rekaan, tetapi juga berjumpa dengan serpihan pengalaman sosial yang pernah atau masih hidup di sekitarnya.
Dengan memanfaatkan memori kolektif, cerita fiksi dalam novel menjadi terasa nyata, tokoh-tokohnya tampak membumi, dan related dengan kehidupan serta alam pikiran pembaca. Banyak contoh karya sastra yang menggunakan latar budaya lokal.
Di antaranya yang masyhur adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, yang mengisahkan kehidupan penari ronggeng di tengah pusaran zaman. Ada lagi Para Priyayi karya Umar Kayam yang mengangkat kehidupan kaum priyayi di Jawa.
















