
Adriono yang menjadi penyunting novel Gemblak Terakhir yang ditulis duet oleh Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama.
iniSURABAYA.com – Sebagai penyunting novel Gemblak Terakhir, Adriono, punya pujian tersendiri terhadap karya dua jurnalis Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama itu. Terutama terkait kekuatan novel tersebut merekam memori kolektif masyarakat yang dapat menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi lahirnya sebuah karya sastra.
Memori kolektif bisa dalam bentuk budaya masyarakat, kearifan lokal, legenda, dongeng, gugon tuhon, ataupun mitos. Semua harta karun itu dapat memberikan referensi, muatan falsafah, atau setidaknya memberi warna yang menarik dalam karya tulis.
Memori kolektif itu bukan sekadar ingatan tentang sesuatu yang pernah terjadi pada masa lalu. Ia merupakan kumpulan pengalaman, pengetahuan, nilai, keyakinan, dan cerita yang hidup serta diwariskan di tengah masyarakat.
“Karena terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, ingatan bersama tersebut kemudian menjadi bagian dari cara sebuah komunitas memahami dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya,” kata mantan jurnalis Surabaya Post itu.
Dalam konteks sastra, memori kolektif menjadi semacam bahan mentah yang sangat kaya. Penulis tidak harus menciptakan dunia dari ruang kosong. Ia dapat menggali sesuatu yang sudah hidup dalam ingatan masyarakat, kemudian mengolahnya menjadi cerita, konflik, karakter, maupun latar yang lebih segar.















