Adriono, Penyunting Novel ‘Gemblak Terakhir’, Puji Karya Dua Jurnalis Senior: Kuat Merekam Memori Kolektif

0
140
Adriono, jurnalis senior Harian Sore Surabaya Post, penyunting novel karya Sasetya Wilutama dan Imung Mulyanto berjudul Gemblak Terakhir.

Lalu novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala yang diangkat menjadi seri televisi yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, bertutur tentang adat Jawa Tengah dan industri rokok kretek. Tarian Bumi, novel karya Oka Rusmini, mempersoalkan tradisi kasta dan posisi perempuan dalam adat Bali yang kental.

Dunia film pun menggunakan “resep” yang sama. Contohnya film drama terbaru Reza Rahadian berjudul Pangku, juga menghadirkan kehidupan remang-remang warung kopi di kawasan Pantura dengan menyediakan perempuan yang boleh “dipangku”.

Nah, mengambil pola yang sama, novel karya Sasetya dan Imung mengangkat memori kolektif masyarakat Jawa, terutama di kawasan Kabupaten Ponorogo dan sekitarnya, yang terkait dengan dunia warok dan gemblak.

Seperti diketahui, warok adalah pemimpin lokal informal, pendekar yang disegani, dan biasanya memiliki kelompok kesenian reog. Sedangkan gemblak adalah anak laki-laki yang “dipelihara” secara khusus oleh seorang warok. Peran dan makna gemblak cukup kompleks, mencakup aspek seni pertunjukan, simbol status, hingga isu sosial dan spiritual yang kontroversial.

“Nah, salah satu keberhasilan novel ini adalah kehadiran budaya warok maupun fenomena gemblak tidak sekadar tempelan semata, tetapi benar-benar menyatu (blended) dengan inti cerita yang disuguhkan,” ujarnya.

1 2 3 4

Comments are closed.