Transaksi Non-Tunai F&B Surabaya Tembus 78%: Bisnis Kuliner Mulai Masuk Era Baru

Sandra K Dewi Area Team Leader ESB, Teofilus Hartono Mr Suprek, Andre S Winyoto Guri Ramen, Agung Haryadi F&B Educator & Management Consultant. (foto-foto: dok/IST)
Agung Haryadi, F&B Educator dan Management Consultant, melihat kondisi tersebut sebagai proses seleksi alam bagi bisnis kuliner di kota metropolitan.
“Pasar F&B Surabaya sekarang ini keras. Nyaris tiap ruko kosong jadi kafe baru, tapi jumlah konsumennya tidak bertambah secepat itu. Yang bertahan hanya yang punya diferensiasi jelas dan efisien secara operasional, bukan yang sekadar viral sesaat,” ungkapnya.
Menurut Agung, situasi tersebut membuat pelaku usaha membutuhkan keputusan berbasis data, bukan semata-mata mengandalkan intuisi.
Persoalan lainnya adalah meningkatnya biaya bahan baku, sewa tempat, listrik, hingga upah tenaga kerja. Tingginya pergantian karyawan juga dapat memengaruhi konsistensi rasa dan kualitas layanan.
Di tengah kondisi tersebut, tren bisnis kuliner yang hanya mengejar popularitas sesaat dinilai semakin berisiko. Popularitas mungkin mendatangkan pelanggan untuk sementara, tetapi sistem operasional yang kuat menjadi faktor penting agar pelanggan kembali.

















